Liu Pang pernah berkata, “Selama Han Xin dan Zhang Liang ada disampingku, menguasai Cina bukanlah hal yg mustahil.” Takdir menyanggupi kehendak Liu Pang dan mencatatnya sebagai Kaisar Han Pertama yang dinastinya akan menguasai Cina selama beratus-ratus tahun.
Han Xin dilahirkan dari keluarga miskin yg tidak ternama, kehidupan yang melarat dan yatim piatu karena ditinggal ayah ibunya sejak kecil tidak membuat Han Xin minder tetapi kebalikannya dia berupaya keras membuat dirinya “gagah” dan terkesan sombong demi mempertahankan harga dirinya. Ketika usianya beranjak dewasa, Pemuda Han Xin yang telah menguasai ilmu silat tinggi selalu menenteng pedang kemanapun ia pergi, pada waktu itu seseorang yg menenteng pedang kemanapun ia pergi mempunyai resiko untuk terbunuh karena menyandang predikat sebagai pendekar dan setiap saat akan ditantang untuk membuktikan kemampuannya. Kenekatannya akhirnya menemui batu sandungan ketika suatu hari sekelompok preman yang muak melihat aksinya berencana untuk membunuhnya. Dikepung oleh sekelompok preman tidak membuat nyali Han Xin ciut, dia memang siap mati untuk membela nama dan harga dirinya, namun ketika kepala preman berkata padanya bahwa ia masih diijinkan hidup jika mau merangkak melewati selangkangannya, tanpa berpikir panjang ia melakukannya. Pada waktu itu, mungkin hingga saat ini, merangkak melewati selangkangan seseorang dianggap perbuatan yg hina. Namun bagi Han Xin, momen itu adalah suatu persimpangan yang akan merubah keseluruhan hidupnya, karena bagi dia perbuatan tersebut bukanlah sesuatu yang hina tetapi upaya untuk mempertahankan haknya untuk hidup di dunia yg kejam, meskipun untuk itu ia harus menerima ejekan sebagai pengecut dan ditinggal oleh teman-temannya.
Pada waktu Qin Shi Huang, Kaisar pertama yang menguasai Cina dari Dinasti Qin, bertakhta kehidupan di Cina menjadi sangat susah, kebijakan-kebijakannya untuk membangun Tembok Cina, ditambah perang tanpa henti, politik luar negeri yg buruk dengan negara tetangga, plus kelaparan dan banjir membuat kehidupan rakyat semakin sulit, tidak terkecuali Han Xin, namun harga dirinya tetap tinggi, ia tidak rela mengemis hanya untuk mendapatkan makanan. Kehidupan yang sulit membuat ia menjadi gelandangan dan hidup di pinggir sungai. Suatu hari ketika sedang berada di pinggir sungai, seorang perempuan yang kebetulan mencuci pakaiannya di
Ketika pemberontakan melawan kekaisaran Qin bermunculan dimana-mana, Han Xin ikut berpartisipasi. Berada dibawah panji Kerajaan Chu, Han Xin berhasil memenangkan beberapa pertempuran kecil namun pemimpin Chu, Jendral Xiang Yu, kurang menghargai keberhasilannya dikarenakan watak dan latar belakang Xiang Yu yang egois dan tidak mampu melihat apalagi memakai potensi anak buahnya. Han Xin sadar, pemimpinnya tidak mempunyai talenta untuk menjadi pemimpin yang bijak dan ia pun berketetapan untuk meninggalkan jendral Xiang Yu. Niat itu berubah menjadi keyakinan ketika ia mendengar bahwa Liu Pang yang menjadi saingan Xiang Yu sangat menghargai potensi orang2 yang berbakat dan pandai. Pada suatu malam, Han Xin lari dari perkemahannya menjadi desertir dan melaju dengan kudanya menuju perkemahan Liu Pang yang terletak jauh dari Perkemahan Jendral Xiang Yu.
Atas rekomendasi dari Xiao He, salah satu Penasehat Liu Pang yang menyadari potensi besarnya. Han Xin diterima bekerja sebagai perwira menengah. Menyesal bahwa ia pun tidak digubris oleh atasannya, membulatkan tekadnya untuk lari dari Liu Pang. Niat itu dilaksanakan ketika untuk terakhir kalinya rekomendasinya untuk menghancurkan tentara Qin dalam sekali pukul ditolak oleh atasannya dengan alasan perbedaan jumlah tentara yang sangat signifikan, tanpa terlebih dahulu mengkonsultasikannya dengan Liu Pang, sementara keadaan mereka sedang dijepit oleh pasukan Qin yang berkekuatan besar. Malam itu ketika bulan purnama, Han Xin melarikan diri dari perkemahan Liu Pang, Xiao He yang mendengar suara derap kuda merasa heran dan berlari keluar dari kemahnya untuk mengetahui situasi yang terjadi, ketika mendengar bahwa Han Xin melarikan diri, tanpa sempat mengganti pakaian tidurnya Xiao He langsung mengejar Han Xin dengan kudanya sekuat tenaga. Sampai di bantaran sungai kuning Xiao He berhasil menemukan Han Xin yang sedang mencari perahu untuk menyeberangkannya. “Han Xin…Han Xin…kemana lagi kau akan pergi?” seru Xiao He. Mendengar suara temannya Xiao He, Han Xin menghentikan upayanya untuk mencari perahu. “Aku akan berkelana mencari dunia….” kata Han Xin pelan. “Dunia telah kau temukan sekarang taklukkanlah dulu egomu, Liu Pang hanya butuh waktu untuk mempercayaimu dan kau harus menyediakan waktu itu.” Kata Xiao He. “ Waktu tidak mampu menunggu tuan kita, Xiao He”; “Kalau begitu tugaskulah untuk mengingatkannya..” kata Xiao He datar. Setelah berhasil membujuk Han Xin akhirnya mereka berdua memutar kuda mereka masing2 menuju perkemahan Liu Pang.
Sementara itu keributan terjadi di perkemahan Liu Pang, Liu Pang yang baru terjaga dari tidurnya terkejut mendengar pelarian Xiao He, rupanya informasi yg diterima salah, karena menurut informasi tersebut Xiao He-lah yang melarikan diri. Ketika Xiao He sampai di perkemahan masih dengan napas yang tidak teratur, Liu Pang langsung mencercanya “Xiao He,jadi kau akan meninggalkan diriku pada saat yang genting ini?” “Tuanku” Jelas Xiao He “ Hamba bukan melarikan diri, namun hamba mengejar seseorang yg hamba yakini dapat mampu menyelamatkan kita dari situasi sekarang ini sekaligus mewujudkan impian tuanku untuk menjadi penguasa negeri ini.”; “Siapakah orang itu?” “Han Xin Tuanku” Liu Pang menatap Xiao He dengan pandangan ragu “Siapa Han Xin ini?” “Dia adalah perwira Tuanku, karena dia meyakini hanya dengan pukulan langsung ke jantung pertahanan pasukan Qin, nyawa kita dapat terselamatkan. Dia merekomendasikan hal ini kepada atasannya, karena ditolak dia melarikan diri untuk menghindari kematian yang semestinya tidak perlu” Liu Pang yang memang bijaksana tidak menyia-nyiakan waktu yang ada dan langsung memerintahkan Han Xin untuk menghadap dan beraudiensi dengan dirinya. Ketika mendengar pandangan2 Han Xin tentang rendahnya kualitas tentara musuh yang memiliki kuantitas lebih tinggi ditambah diskusi panjang lebar dengan para penasehatnya, Liu Pang setuju untuk menjalankan strategi Han Xin untuk melancarkan serangan sekali pukul ke jantung pertahanan Kerajaan Qin.
Berkat keberhasilannya ini, ketika Dinasti Qin jatuh, Liu Pang mengangkat Han Xin sebagai Panglima Tertinggi Kerajaan Han untuk melawan negeri Chu dan berhak untuk melakukan tindakan yang dianggap perlu tanpa harus melapor terlebih dulu kepada Raja Han alias Liu Pang. Kepercayaan yang diberikan kepada Han Xin tidak disia-siakan, segera dia menyiapkan tentara untuk melawan pasukan Kerajaan Chu.
Satu ketika ketika dalam perjalanan mengejar pasukan Xiang Yu, Han Xin melewati kembali desa tempat ia dilahirkan, sambil mengenang peristiwa yang berlalu dalam hidupnya, ia teringat kepala preman yang dulu pernah menyuruhnya berjalan melewati selangkangannya, ia pun mengirim sekelompok pasukan untuk mencari kepala preman tersebut. Tahu bahwa jiwanya terancam, kepala preman itu menyerahkan dirinya ke pasukan Han Xin yang langsung membawanya menghadap. Diluar dugaan, Han Xin melepaskan tawanan yang pasrah itu dan mengangkatnya menjadi pengawalnya. Kelak di pertempuran selanjutnya, kepala preman yang merasa berhutang budi terhadap Han Xin bertempur gagah berani hingga menemui ajalnya.
Xiang Yu yang terus menerus dikejar dan dijepit oleh dua pasukan gabungan Liu Pang dan Han Xin, tidak lagi mampu mengimbanginya meskipun kekuatan awalnya sangatlah besar, hal ini lebih dikarenakan ketidak mampuan Xiang Yu untuk membuat bawahannya setia dan lawan menyeganinya. Sementara Liu Pang dengan kharismanya yang tinggi mampu merebut hati lawannya dan membangun kesetiaan diantara bawahannya. Dalam satu pertempuran yang menentukan Xiang Yu berhasil dikalahkan oleh Liu Pang dan lari kembali ke negaranya,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar