30 Juni 2008

Si Tukang Kayu

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu," katanya, "hadiah dari kami."

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan.

Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi.

Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

"Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri".

Bagikanlah renungan ini kepada sahabat dan teman-teman anda, niscaya kebajikan dan hikmat akan kembali jua kepada kebaikan yang Anda bagikan.


Read More......

27 Juni 2008

Maha Guru

Pada suatu waktu, ada seorang mahaguru yang ingin mengambil break dari kehidupannya sehari-hari sebagai akademisi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai dan meminta seorang nelayan untuk membawanya pergi melaut sampai ke horizon.

Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut bertanya, "Wahai nelayan, apakah Anda mengenal ilmu geografi?" Sang nelayan menjawab, "ilmu geografi yang saya ketahui adalah kalau di laut sudah mulai sering ombak pasang, maka musim hujan segera akan tiba."

"Nelayan bodoh!" kata mahaguru tersebut. "Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai ilmu geografi kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu."

Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru tersebut bertanya pada nelayan apakah dia mempelajari ilmu biologi dan sains? Sang nelayan menjawab bahwa ilmu biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja yang dapat dimakan.

"Nelayan bodoh, dengan tidak menguasai sains kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu."

Kemudian mahaguru tersebut bercerita tentang Tuhan yang menciptakan umat manusia dengan struktur tubuh, kapasitas otak yang sama, dan lain-lain.

Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah nelayan tersebut mempelajari matematika? Sang nelayan menjawab bahwa matematika yang dia ketahui hanyalah bagaimana cara menimbang hasil tangkapannya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkannya, dan menjual hasil tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya. Lagi-lagi mahaguru tersebut mengatakan betapa bodohnya sang nelayan dan dia sudah kehilangan lagi seperempat kehidupannya.

Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari pantai dan mendekati horizon, mahaguru tersebut bertanya,

"apa artinya awan hitam yang menggantung di langit?"

"Topan badai akan segera datang, dan akan membuat lautan menjadi sangat berbahaya." Jawab sang nelayan. "Apakah bapak bisa berenang?" Tanya sang nelayan. Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa berenang.

Sang nelayan kemudian berkata, "Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga subyek yang tadi diutarakan oleh mahaguru, tetapi mahaguru akan kehilangan seluruh kehidupan yang dimiliki."

Kemudian nelayan tersebut meloncat dari perahu dan berenang ke pantai sedangkan mahaguru tersebut tenggelam. Demikian juga dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan ataupun pergaulan sehari-hari. Kadang-kadang kita meremehkan teman, anak buah ataupun sesama rekan kerja. Kalimat "tahu apa kamu" atau "si anu tidak tahu apa-apa" mungkin secara tidak sadar sering kita ungkapkan ketika sedang membahas sebuah permasalahan. Padahal, ada kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan spesifik yang dapat mengatasi masalah yang timbul.

Seorang operator color mixing di pabrik tekstil atau cat mungkin lebih mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya. Intinya, orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami secara detail apa yang dia kerjakan dibandingkan orang 'luar' yang hanya tahu 'kulitnya' saja.

Mengenai kondisi dan kompetisi yang terjadi di pasar, pengetahuan seorang marketing manager mungkin akan kalah dibandingkan dengan seorang salesperson atau orang yang bergerak langsung di lapangan.

Atau sebaliknya, kita sering menganggap remeh orang baru. Kita menganggap orang baru tersebut tidak mengetahui secara mendalam mengenai bisnis yang kita geluti. Padahal, orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat memberikan terobosan untuk kemajuan perusahaan.

Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat dan jabatan kita sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman, posisi atau pendidikannya di bawah kita. Kita jarang bertanya pada bawahan kita. Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar basa-basi, pendapat dan masukannya sering dianggap sebagai angin lalu.

Padahal, kita tidak bisa bergantung pada kemampuan diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain. Keberhasilan kita tergantung pada keberhasilan orang lain. Begitu sebuah masalah muncul ke permukaan, kita tidak bisa mengatasinya dengan hanya mengandalkan kemampuan yang kita miliki. Kita harus menggabungkan kemampuan kita dengan orang lain.

Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih akan ditolong oleh orang lain yang kita hargai kemampuannya. Tidak seperti mahaguru yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang sedang dilanda topan badai dan dibiarkan mati tenggelam karena tidak menghargai kemampuan nelayan yang membawanya.

Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka bertingkah laku seperti sang mahaguru? Bila ya, seberapa sering?




Read More......

26 Juni 2008

Kisah Shay dan pilihan hidupnya

Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik: 'Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? ' Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia" Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:

Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,"Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, di luar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, "kami telah kalah 6 putaran dan sekarang sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti'

Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay. Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah ke depan, dan melempar bola itu perlahan ke arah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun ke arah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali ke arah pitcher. Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir.

Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, "Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!". Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.

Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!" Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga. Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay"

Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!". Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan ke dalam dunia.

Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen di mana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung di antara mereka.

Catatan:

Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tnp pikir panjang, namun bila kita harus mengirimkan mail tentang pilihan dalam hidup, kita seringkali ragu. Kejadian-kejadian vulgar, kasar dan mengerikan acap terjadi dalam hidup ini,namun pembicaraan tentangnya seolah tertelan waktu, baik itu di lingkungan pendidikan atau kerja. Jika Anda berpikir untuk forward email ini, kemungkinannya Anda akan memilih daftar orang-orang dari email address Anda yang Anda pikir layak untuk menerima email Anda. Ingatlah, bahwa orang yang mengirimi Anda email ini berpikir bahwa kita semua dapat membuat perbedaan.

Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap harinya untuk dapat memahami "kejadian alami dalam hidup". Begitu banyak hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan 2 pertanyaan bagi kita:

Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?

"We can do no great things - only small things with great love." Mother Teresa (1910-1997)


Read More......

25 Juni 2008

Mengapa Beruang Tumbuh Besar

Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dengan sabar di tepi sungai deras. Waktu itu memang tidak sedang musim ikan. Sejak pagi ia berdiri disana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air. Namun, tak satu juga ikan yang berhasil ia tangkap. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya... hup... ia dapat menangkap seekor ikan kecil. Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan. Si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, "Wahai beruang, tolong lepaskan aku."

"Mengapa," tanya sang beruang.

"Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu," rintih sang ikan.

"Lalu kenapa?" tanya beruang lagi.

"Begini saja, tolong kembalikan aku ke sungai. Setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar. Di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku untuk memenuhi seleramu," kata ikan.

"Wahai ikan, kau tahu mengapa aku bisa tumbuh begitu besar?" tanya beruang.

"Mengapa?" ikan balas bertanya sambil menggeleng-geleng kepalanya.

"Karena aku tak pernah menyerah walau sekecil apa pun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan!" jawab beruang sambil tersenyum mantap.

"Ops!" teriak sang ikan.

Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap : "Ohhh....Andaikan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dulu...??" Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita.

Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan;

Disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan;

Disaat jatuh, selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali;

Dan dalam kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita.

Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar.

Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi sebuah kesempatan yang besar.

Remember :

Life is not worthy, if you are not willing to die for it !!!

(Joseph Bismarck)



Read More......

Read More......

24 Juni 2008

Kisah Penyemir Sepatu

Siang itu tadi temanku tiba-tiba nelpon. Makan siang yuk, ajaknya. Oke, jawabku. So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock Exchange building.

Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan dimana. Ide ke soto Pak Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir sudah sampai sebrang-sebrang.

Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara. Bisa makan di mobil soalnya. Sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa mobil. Kami masih bisa milih parkir yang enak. Mungkin karena masih pada jumatan. Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado sudah menanyakan mau makan apa, minum apa.

Kami pesan dua porsi gado-gado + teh botol. Sambil menunggu pesanan, kami pun ngobrol. So, ketika tiba2 ada seorang pemuda lusuh nongol di jendela mobil kami, kami agak kaget. "Semir om?" tanyanya. Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir sepatuku sendiri? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan sok sibuk...Tanpa sadar tangan ku membuka sepatu dan memberikannya pada dia. Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin supaya nyemirnya nyaman.

Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatu ku. Pembicaraan pun bergeser kepemuda itu. Umur sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi kernet, ya jadi pak ogah. Pandangan matanya kosong. Absent minded. Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir secara otomatis. Kadang2 matanya melayang ke arah mobil-mobil yang hendak parkir (sudah mulai ramai).

Lalu pandangannya kembali kosong. Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana. Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak, kenapa dia jadi penyemir dll. Kami masih makan saat dia selesai menyemir. Dia menyerahkan sepatunya padaku. Belum lagi dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir sesudah kami. Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil. Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam kesedihan. Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke mobil lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan itu. Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan. Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair anyway. Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir? Hihihi...

Perbincangan pun bergeser ke topik lain. Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan, mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain penolakan,di beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga.

Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. Tertunduk lesu... Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar. Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. Uang sisa parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahu ku jasa nyemir biasanya 2 ribu rupiah

Dia berkata kalem "Kebanyakan om. Seribu aja". BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku. It-just-does-not-compute-with-my-logic! Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.

Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rupiah yang dia kembalikan. Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang? But, dia merasa cukup dibayar segitu. Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gaji ku. Padahal keadaanku sudah -sangat jauh- lebih baik dari dia.

Tuhan sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilaku-ku belum seberapa dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan.

Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga.

Siang ini aku seperti diingatkan.

Bahwa kejujuran itu langka.

Bahwa kepuasan itu adanya di rasa syukur.


Read More......

23 Juni 2008

Cara Berpikir Orang Sukses

"Successful people think differently than unsuccessful people".

Ungkapan ini berusaha menjelaskan bahwa perbedaan utama antara orang sukses dan orang gagal ada pada cara berpikirnya. Mereka yang sukses adalah mereka yang selalu menggunakan kekuatan berpikir untuk terus memperbaiki hidupnya sehingga lebih baik. Orang-orang sukses ini adalah mereka yang memiliki tipe berpikir positif.

Tipe berpikir orang-orang sukses ini adalah :

1. Big picture thinking not small thinking. Cara berpikir ini menjadikan mereka terus belajar, banyak mendengar dan terfokus sehingga cakrawala mereka menjadi luas.

2. Focused thinking not scattered thinking, sehingga dapat menghemat waktu dan energi, loncatan-loncatan besar dapat mereka raih.

3. Creative thinking not restrictive thinking. Proses berpikir kreatif ini meliputi; think-collect-create-correct-connect.

4. Realistic thinking not fantasy thinking, memungkinkan mereka meminimalkan risiko, ada target & plan, security, sebagai Katalis dan memiliki Kredibilitas.

5. Strategic thinking not random thinking, sehingga simplifies, customize, antisipatif, reduce error and influence other dapat dilakukan.

6. Possibility thinking not limited thinking, mereka dapat berpikir bebas dan menemukan solusi bagi situasi yang dihadapi.

7. Reflective thinking not impulsive thinking, memungkinkan mereka memiliki integritas, clarify big picture, confident decision making.

8. Innovative thinking not popular thinking. Menghindari cara berpikir yang awam untuk meraih sesuatu yang lebih baik.

9. Shared thinking not solo thinking. Berbagi pemikiran dengan orang lain untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

10. Unselfish thinking not selfish thinking. Memungkinkan mereka berkolaborasi dengan pemikiran orang lain.

11. Bottom line thinking not wishful thinking. Berfokus pada hasil sehingga dapat meraih hasil berdasarkan potensi pemikiran yang dimiliki.

Sumber : Thinking For A Change

Pengarang : John C. Maxwell

Penerbit : Warner Business Books (2003)




Read More......

20 Juni 2008

Bola Kaca




"Bayangkan hidup sebagai suatu permainan ketangkasan dimana kita harus memainkan keseimbangan 5 buah bola yang dilempar ke udara. Bola-bola tersebut bernama:

1. Pekerjaan

2. Keluarga

3. Kesehatan

4. Teman

5. Spirit

dan kita harus menjaga agar ke-5 bola ini seimbang di udara. Kita akan segera mengerti bahwa ternyata "Pekerjaan" hanyalah sebuah bola karet.

Jika kita menjatuhkannya maka ia akan dapat memantul kembali. Tetapi empat bola lainnya Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit terbuat dari gelas. Dan jika kita menjatuhkan salah satunya maka ia akan dapat terluka, tertandai, tergores, rusak atau bahkan hancur berkeping-keping. Dan ingatlah mereka tidak akan pernah kembali seperti aslinya. Kita harus memahaminya benar dan berusaha keras untuk menyeimbangkannya.

Bagaimana caranya?

1. Jangan rusak nilai kita dengan membandingkannya dengan nilai orang lain. Perbedaan yang ada diciptakan untuk membuat masing-masing diri kita special.

2. Jangan tetapkan tujuan dan sasaran kita dengan mengacu pada apa yang orang lain anggap itu penting. Hanya Kita yang mengerti dan dapat merasa " apa yang terbaik untuk kita".

3. Jangan mengganggap remeh sesuatu yang dekat di hati kita, melekatlah padanya seakan-akan ia adalah bagian yang membuat kita hidup, dimana tanpanya, hidup menjadi kurang berarti.

4. Jangan biarkan hidup kita terpuruk dengan hidup di 'masa lampau' atau dalam mimpi masa depan. Satu hari hidup pada suatu waktu berarti hidup untuk seluruh waktu hidupmu.

5. Jangan menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan. Tidak ada yang benar-benar kalah sampai kita berhenti berusaha.

6. Jangan takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ketidaksempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain.

7. Jangan takut menghadapi resiko. Anggaplah resiko sebagai kesempatan kita untuk belajar bagaimana menjadi berani.

8. Jangan berusaha untuk mengunci Cinta memasuki hidupmu dengan berkata: "tidak mungkin saya temukan". Cara tercepat untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberinya, Cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah dengan menggenggamnya sekencang mungkin, dan cara terbaik untuk menjaga agar cinta tetap tumbuh adalah dengan memberinya "sayap".

9. Janganlah berlari, meskipun hidup tampak sangat cepat, sehingga kita lupa dari mana kita berasal dan juga lupa sedang menuju kemana kita.

10. Jangan lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalah kebutuhan untuk merasa dihargai.

11. Jangan takut untuk belajar sesuatu, Ilmu Pengetahuan adalah harta karun yang selalu dapat Kita bawa kemanapun tanpa membebani.

12. Jangan gunakan waktu dan kata-kata dengan sembrono. Karena keduanya tidak mungkin kita ulang kembali jika telah lewat. Hidup bukanlah pacuan melainkan suatu perjalanan dimana setiap tahap sepanjang jalannya harus dinikmati.

Diambil dari berbagai sumber




Read More......

19 Juni 2008

Berpikir Kreatif


Segi-segi mental orang kreatif :

1. Selalu belajar untuk menjadi seorang inovator yang terbaik: Seorang yang selalu mencari, menyesuaikan dan mengimplementasikan ide-ide, baik yang baru maupun yang sudah lama. Carilah ide-ide secara aktif melalui cara membaca, pembacaan sepintas, membuat intisari dan lain sebagainya atas katalog-katalog, buku-buku laporan, dan lain sebagainya.

2. Ubahlah kebiasaan dan citra diri anda: Jadilah seorang yang progresif, kembangkanlah atribut-atribut dan motivasi yang dibutuhkan. Kembangkanlah sikap mencintai ide-ide, hal-hal, cara-cara, sistem-sistem dan teknologi-teknologi baru. Tuangkanlah ide-ide ke dalam bentuk tulisan.

3. Lakukanlah tindakan: Milikilah keberanian dan kepercayaan diri untuk menjadi inovator. Jadilah orang yang berbeda. Kegagalan memang akan muncul, namun kita akan belajar dari adanya suatu kesalahan. Emosi akan dapat membantu munculnya kreatifitas ---Kendalikan stress. Tekunlah selalu!!

4. Terimalah perubahan dan tantangan suatu masalah dengan tangan terbuka. Jadilah seorang dengan pikiran yang terbuka dan fleksibel.

5. Terapkanlah ide-ide pada setiap sudut kehidupan anda : Dalam kehidupan pribadi anda, karir, sekolah, bisnis dan di manapun juga. Ajukan selalu pertanyaan: ”Dengan jalan lain yang bagaimana saya dapat melakukannya?” Hasilkan suatu pemecahan masalah, ide-ide, konsep dan teori-teori yang inovatif dan kreatif. Jadilah peka terhadap setiap kesempatan-kesempatan baik.

6. Pelajari tentang inovasi, perubahan dan kreatifitas sebagaimana anda berusaha untuk memenangkan diterimanya ide anda. Didiklah diri anda sendiri. Ambillah kursus-kursus yang tersedia. Kembangkanlah gairah terhadap adanya masalah yang anda hadapi. Belajarlah menjadi anggota suatu tim kerja, pemimpin dan inovator yang baik.

7. Milikilah selalu rasa ingin tahu dan jadilah seorang pengamat : Kembangkanlah semangat anda untuk mencari informasi. Inilah satu-satunya cara untuk dapat mengenali awal mula masalah yang sebenarnya. Hindarilah pertentangan cara berfikir anda. Temukan faktor-faktor yang dapat dijadikan kunci utama.

8. Bertanyalah selalu : Mengapa, Apa, Yang Mana, Di Mana, Kapan, Siapa, Bagaimana, dan Apabila. Refleksikalah selalu terhadap setiap aspek dari masalah anda. Jangan terlalu cepat berprasangka terhadap ide-ide.

9. Kembangkan daya berfikir reflektif dan kemampuan-kemampuan berfikir anda : Bermimpilah siang hari tentang masalah anda. Meloncatlah kesana kemari di antara daya nalar, kritis, khayalan dan berfikir melantur. Perbaikilah tingkat kempuan berfikir anda melalui cara mempelajari sesuatu dan mempraktekkannya.

10. Bangunlah dasar pengetahuan dan intuisi anda melalui kegiatan membaca dan lain-lainnya: Jagalah kerapian arsip anda. Belajarlah tentang cara bagaimana melakukan penelitian dan cara memvisualisasikan.

Kita perlu memiliki pengetahuan umum seluas mungkin, bacalah bidang apa saja. Belajar apapun tidak ada ruginya, jika anda mampu menggunakan asas manfaat. Mulailah dengan rajin mencatat, membuat dokumentasi dan jagalah kerapian arsip anda.

Read More......

18 Juni 2008

5 MESIN MOTIVASI

When he reached the new world, Cortez burned his ships. As a result his crew was well motivated. The Hunt for Red October.


Kita sudah sering mendengar, melihat bagaimana sekelompok orang bisa termotivasi untuk berteriak-teriak lantang bersama seorang mentor, menjanjikan kepada diri sendiri dan orang lain bahwa”Saya bisa’. Kemudian terengah-engah pulang, sangat bersemangat; hanya untuk menyadari bahwa semangatnya menguap tidak lama setelah itu. Itulah jenis motivasi yang berbasis penularan dari semangat motivatornya, seperti kapal layar yang bergerak maju karena tiupan angin di belakangnya. Yang kita butuhkan adalah sebuah kekuatan semangat yang bertahan lama dalam diri sendiri, dan yang bahkan memperkuat dirinya sendiri dengan berjalannya waktu; dengan atau tanpa kehadiran motivator.

Lima mesin semangat yang bisa mendorong kapal itu tanpa adanya angin, atau bahkan menentang angin adalah :

1. Rasa takut gagal

Seseorang yang tidak tertarik untuk mencapai keberhasilan, akan berperilaku seperti mengejar keberhasilan bila dia takut mengalami penderitaan karena gagal. Maka mulailah membayangkan ketidak nyamanan dan penderitaan yang harus anda jalani, bila anda tidak berhak untuk berhasil. Semakin jelas gambaran penderitaan itu, semakin mudah Anda menemukan semangat untuk bekerja lebih baik dan lebih keras dari cara-cara Anda kemarin.

2. Penolakkan menjadi orang biasa

Kecuali bila memang Anda menemukan ketertarikan yang besar untuk menjadi orang biasa, maka mesin ini tidak akan bernilai bagi kapal Anda. Tetapi sebagian besar orang tidak merasa nyaman untuk mengakui bahwa dirinya termasuk dalam kelompok “orang-orang biasa saja”. Dan untuk itu, sebetulnya mereka hanya perlu melakukan hal-hal yang telah dilakukan oleh orang –orang biasa tetapi dengan kualitas yang ”luar biasa baiknya”.

3. Keinginan mencapai kebebasan

Bahkan saudara yang terlemah di antara kita, menginginkan satu atau dua jenis kebebasan tertentu. Perhatikanlah khayalan dan impian-impian Anda, yang sering menjadikan Anda pemimpi dalam kesadaran Anda. Merekalah ungkapan paling jujur mengenai kerinduan Anda pada sebuah kebebasan.

Seberapa kuatkah kerinduan Anda pada kebebasan itu? Bila Anda masih berpegangan kuat pada hal-hal kecil yang tidak penting pada saat ini, dan tidak bergabung dengan kami yang bekerja keras; maka mungkin Anda lebih menyukai batasan-batasan yang mengukung Anda saat ini.

4. Keinginan untuk naik kelas

Pada tempat-tempat yang tinggi tersedia banyak hal baik yang memungkinkan kita menjadi orang yang bernilai, bebas, sejahtera, dan berpengaruh. Dan bila dalam kualitas-kualitas itu terdapat jawaban bagi impian dan cita-cita Anda, maka ‘naik’ adalah nama dari perjalanan Anda. ”Hanya dia yang melihat ke atas yang melihat jalan naik”.

5. Keinginan untuk menjadi pribadi yang bernilai bagi orang lain

Dia yang mengarahkan hidupnya pada tujuan itu, akan selalu menemukan pekerjaan yang bernilai bagi orang lain, dan yang kemudian membuat pribadinya bernilai. Dan ini adalah jenis mesin motivasi yang terbaik yang bisa kita pasang pada diri kita.

Semakin Anda bekerja keras, semakin Anda bersemangat.

From “Mario Teguh”


Read More......

17 Juni 2008

Han Xin “Jendral Pendiri Dinasti Han”


Liu Pang pernah berkata, “Selama Han Xin dan Zhang Liang ada disampingku, menguasai Cina bukanlah hal yg mustahil.” Takdir menyanggupi kehendak Liu Pang dan mencatatnya sebagai Kaisar Han Pertama yang dinastinya akan menguasai Cina selama beratus-ratus tahun.

Han Xin dilahirkan dari keluarga miskin yg tidak ternama, kehidupan yang melarat dan yatim piatu karena ditinggal ayah ibunya sejak kecil tidak membuat Han Xin minder tetapi kebalikannya dia berupaya keras membuat dirinya “gagah” dan terkesan sombong demi mempertahankan harga dirinya. Ketika usianya beranjak dewasa, Pemuda Han Xin yang telah menguasai ilmu silat tinggi selalu menenteng pedang kemanapun ia pergi, pada waktu itu seseorang yg menenteng pedang kemanapun ia pergi mempunyai resiko untuk terbunuh karena menyandang predikat sebagai pendekar dan setiap saat akan ditantang untuk membuktikan kemampuannya. Kenekatannya akhirnya menemui batu sandungan ketika suatu hari sekelompok preman yang muak melihat aksinya berencana untuk membunuhnya. Dikepung oleh sekelompok preman tidak membuat nyali Han Xin ciut, dia memang siap mati untuk membela nama dan harga dirinya, namun ketika kepala preman berkata padanya bahwa ia masih diijinkan hidup jika mau merangkak melewati selangkangannya, tanpa berpikir panjang ia melakukannya. Pada waktu itu, mungkin hingga saat ini, merangkak melewati selangkangan seseorang dianggap perbuatan yg hina. Namun bagi Han Xin, momen itu adalah suatu persimpangan yang akan merubah keseluruhan hidupnya, karena bagi dia perbuatan tersebut bukanlah sesuatu yang hina tetapi upaya untuk mempertahankan haknya untuk hidup di dunia yg kejam, meskipun untuk itu ia harus menerima ejekan sebagai pengecut dan ditinggal oleh teman-temannya.

Pada waktu Qin Shi Huang, Kaisar pertama yang menguasai Cina dari Dinasti Qin, bertakhta kehidupan di Cina menjadi sangat susah, kebijakan-kebijakannya untuk membangun Tembok Cina, ditambah perang tanpa henti, politik luar negeri yg buruk dengan negara tetangga, plus kelaparan dan banjir membuat kehidupan rakyat semakin sulit, tidak terkecuali Han Xin, namun harga dirinya tetap tinggi, ia tidak rela mengemis hanya untuk mendapatkan makanan. Kehidupan yang sulit membuat ia menjadi gelandangan dan hidup di pinggir sungai. Suatu hari ketika sedang berada di pinggir sungai, seorang perempuan yang kebetulan mencuci pakaiannya di sana merasa terusik dengan tatapan Han Xin ke arah bekal makanan yg sedianya akan diberikan kepada anak-anaknya. Tahu bahwa Han Xin kelaparan ia tidak tega untuk tidak membantunya, namun sembari ia membagi sedikit makanannya kepada Han Xin ia berujar “Seorang Laki-laki seperti kau haruslah berusaha sekuat tenaga menggali potensi diri untuk masa depanmu, bukan hanya duduk-duduk di tepi sungai menanti belas kasihan dari wanita seperti diriku”. Kata-kata itu sangat menusuk hati Han Xin dan ia pun sadar bahwa selama ini dirinya takluk dengan situasi dan kondisi tanpa pernah mau menggali lebih keras potensi dirinya yang ada.

Ketika pemberontakan melawan kekaisaran Qin bermunculan dimana-mana, Han Xin ikut berpartisipasi. Berada dibawah panji Kerajaan Chu, Han Xin berhasil memenangkan beberapa pertempuran kecil namun pemimpin Chu, Jendral Xiang Yu, kurang menghargai keberhasilannya dikarenakan watak dan latar belakang Xiang Yu yang egois dan tidak mampu melihat apalagi memakai potensi anak buahnya. Han Xin sadar, pemimpinnya tidak mempunyai talenta untuk menjadi pemimpin yang bijak dan ia pun berketetapan untuk meninggalkan jendral Xiang Yu. Niat itu berubah menjadi keyakinan ketika ia mendengar bahwa Liu Pang yang menjadi saingan Xiang Yu sangat menghargai potensi orang2 yang berbakat dan pandai. Pada suatu malam, Han Xin lari dari perkemahannya menjadi desertir dan melaju dengan kudanya menuju perkemahan Liu Pang yang terletak jauh dari Perkemahan Jendral Xiang Yu.

Atas rekomendasi dari Xiao He, salah satu Penasehat Liu Pang yang menyadari potensi besarnya. Han Xin diterima bekerja sebagai perwira menengah. Menyesal bahwa ia pun tidak digubris oleh atasannya, membulatkan tekadnya untuk lari dari Liu Pang. Niat itu dilaksanakan ketika untuk terakhir kalinya rekomendasinya untuk menghancurkan tentara Qin dalam sekali pukul ditolak oleh atasannya dengan alasan perbedaan jumlah tentara yang sangat signifikan, tanpa terlebih dahulu mengkonsultasikannya dengan Liu Pang, sementara keadaan mereka sedang dijepit oleh pasukan Qin yang berkekuatan besar. Malam itu ketika bulan purnama, Han Xin melarikan diri dari perkemahan Liu Pang, Xiao He yang mendengar suara derap kuda merasa heran dan berlari keluar dari kemahnya untuk mengetahui situasi yang terjadi, ketika mendengar bahwa Han Xin melarikan diri, tanpa sempat mengganti pakaian tidurnya Xiao He langsung mengejar Han Xin dengan kudanya sekuat tenaga. Sampai di bantaran sungai kuning Xiao He berhasil menemukan Han Xin yang sedang mencari perahu untuk menyeberangkannya. “Han Xin…Han Xin…kemana lagi kau akan pergi?” seru Xiao He. Mendengar suara temannya Xiao He, Han Xin menghentikan upayanya untuk mencari perahu. “Aku akan berkelana mencari dunia….” kata Han Xin pelan. “Dunia telah kau temukan sekarang taklukkanlah dulu egomu, Liu Pang hanya butuh waktu untuk mempercayaimu dan kau harus menyediakan waktu itu.” Kata Xiao He. “ Waktu tidak mampu menunggu tuan kita, Xiao He”; “Kalau begitu tugaskulah untuk mengingatkannya..” kata Xiao He datar. Setelah berhasil membujuk Han Xin akhirnya mereka berdua memutar kuda mereka masing2 menuju perkemahan Liu Pang.

Sementara itu keributan terjadi di perkemahan Liu Pang, Liu Pang yang baru terjaga dari tidurnya terkejut mendengar pelarian Xiao He, rupanya informasi yg diterima salah, karena menurut informasi tersebut Xiao He-lah yang melarikan diri. Ketika Xiao He sampai di perkemahan masih dengan napas yang tidak teratur, Liu Pang langsung mencercanya “Xiao He,jadi kau akan meninggalkan diriku pada saat yang genting ini?” “Tuanku” Jelas Xiao He “ Hamba bukan melarikan diri, namun hamba mengejar seseorang yg hamba yakini dapat mampu menyelamatkan kita dari situasi sekarang ini sekaligus mewujudkan impian tuanku untuk menjadi penguasa negeri ini.”; “Siapakah orang itu?” “Han Xin Tuanku” Liu Pang menatap Xiao He dengan pandangan ragu “Siapa Han Xin ini?” “Dia adalah perwira Tuanku, karena dia meyakini hanya dengan pukulan langsung ke jantung pertahanan pasukan Qin, nyawa kita dapat terselamatkan. Dia merekomendasikan hal ini kepada atasannya, karena ditolak dia melarikan diri untuk menghindari kematian yang semestinya tidak perlu” Liu Pang yang memang bijaksana tidak menyia-nyiakan waktu yang ada dan langsung memerintahkan Han Xin untuk menghadap dan beraudiensi dengan dirinya. Ketika mendengar pandangan2 Han Xin tentang rendahnya kualitas tentara musuh yang memiliki kuantitas lebih tinggi ditambah diskusi panjang lebar dengan para penasehatnya, Liu Pang setuju untuk menjalankan strategi Han Xin untuk melancarkan serangan sekali pukul ke jantung pertahanan Kerajaan Qin.

Berkat keberhasilannya ini, ketika Dinasti Qin jatuh, Liu Pang mengangkat Han Xin sebagai Panglima Tertinggi Kerajaan Han untuk melawan negeri Chu dan berhak untuk melakukan tindakan yang dianggap perlu tanpa harus melapor terlebih dulu kepada Raja Han alias Liu Pang. Kepercayaan yang diberikan kepada Han Xin tidak disia-siakan, segera dia menyiapkan tentara untuk melawan pasukan Kerajaan Chu.

Satu ketika ketika dalam perjalanan mengejar pasukan Xiang Yu, Han Xin melewati kembali desa tempat ia dilahirkan, sambil mengenang peristiwa yang berlalu dalam hidupnya, ia teringat kepala preman yang dulu pernah menyuruhnya berjalan melewati selangkangannya, ia pun mengirim sekelompok pasukan untuk mencari kepala preman tersebut. Tahu bahwa jiwanya terancam, kepala preman itu menyerahkan dirinya ke pasukan Han Xin yang langsung membawanya menghadap. Diluar dugaan, Han Xin melepaskan tawanan yang pasrah itu dan mengangkatnya menjadi pengawalnya. Kelak di pertempuran selanjutnya, kepala preman yang merasa berhutang budi terhadap Han Xin bertempur gagah berani hingga menemui ajalnya.

Xiang Yu yang terus menerus dikejar dan dijepit oleh dua pasukan gabungan Liu Pang dan Han Xin, tidak lagi mampu mengimbanginya meskipun kekuatan awalnya sangatlah besar, hal ini lebih dikarenakan ketidak mampuan Xiang Yu untuk membuat bawahannya setia dan lawan menyeganinya. Sementara Liu Pang dengan kharismanya yang tinggi mampu merebut hati lawannya dan membangun kesetiaan diantara bawahannya. Dalam satu pertempuran yang menentukan Xiang Yu berhasil dikalahkan oleh Liu Pang dan lari kembali ke negaranya, malang jalan pulangnya telah dipotong oleh Han Xin yang menunggu dengan pasukan yang besar. Tahu bahwa dirinya menghadapi bekas majikannya, Han Xin Memutuskan untuk mengepung tanpa menghabisi kelompok pasukan yang kalah. Ketika Xiang Yu mengetahui hal ini dia mencabut pedangnya dan membunuh dirinya sendiri. Sesaat sebelum menggorok lehernya, Xiang Yu sempat mengucapkan penyesalannya bahwa akhir hidupnya harus ditentukan oleh Han Xin, bekas bawahannya.

Berakhirnya hidup Xiang Yu, berarti berakhir pula Kerajaan Chu yang menjadi satu-satunya saingan kerajaan Han milik Liu Pang. Setelah kerajaan Chu musnah, kerajaan-kerajaan kecil yang lain menyatakan takluk kepada Han dan Cina dapat disatukan dengan Kaisar pertamanya Han Di Liu Pang. Han Xin sendiri dianugerahi gelar Raja Muda oleh Liu Pang dan dalam satu intrik politik yang kejam Han Xin akhirnya dibunuh dan keluarganya dihabisi.

Read More......

16 Juni 2008

Waktu Yang Tertunda

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu mengganggu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata, ”Tidak apa-apa, besok kan bisa” Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia merasa masih punya banyak teman baik yang lain.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang wanita yang sangat cantik dan baik. Wanita ini kemudian menjadi istrinya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin. Dalam perjalanan karirnya, kadang-kadang dia rindu untuk bertemu teman-teman lamanya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, “Ah, aku capek, besok saja aku hubungin mereka”. Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja yang selalu mau diajak keluar.

Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya. Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena dia menganggap istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.

Kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan utuk mengatakan pada istrinya “Aku cinta kamu”, tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, “Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya.” Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan berpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat di kantor. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum sempat berkata “Aku cinta kamu”, istrinya telah meninggal dunia. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya.

Tapi, dia baru sadar bahwa anak-anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.

Saat mulai renta, dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya.

Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Saaat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, “Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu…..” Kemudian perlahan ia menghembuskan nafas terakhir, dan dia meninggal dunia dengan air mata di pipinya.

Sumber : Air Putih


Read More......