28 April 2008

Busway...

Seperti hari-hari sebelumnya aku berangkat ke tempat kerja. Sepanjang perjalanan dari Cawang menuju Tanjung Priok dengan memacu sepeda motor berusaha sampai ke tempat kerja dengan waktu yang lebih cepat. Jalan di sepanjang jalan DI Panjaitan sebagian rusak, terpaksa deh ambil jalur kanan (jalur Busway) mumpung masih pagi dan belum ada yang ngelarang.

Berbicara tentang busway, proyek warisan dari Pak Yos untuk Pak Foke belum rampung juga. Padahal rencana sebelumnya tuh proyek beres sekitar pertengahan Desember 2008 kemarin, sekarang saja sudah pertengahan April 2008, berarti dah molor sekitar 4 bulan dan belum tahu juga kapan GONG busway Kampung Rambutan-Tanjung Priok PP itu akan rampung.

Busway merupakan transportasi massal yang diciptakan untuk mengurangi kemacetan akibat semrawutnya sistem pertransportasian terutama di ibukota. Jika proyek ini sukses, maka jarak tempuh Cawang-Tanjung Priok yang biasanya memakan waktu 1 jam akan mampu dicapai dalam waktu 30 hingga 45 menit.

Sebenarnya busway ini belum sepenuhnya memenuhi keinginan masyarakat. Sebagai contoh hal-hal berikut ini yang membuat kendaraan pribadi lebih unggul dari pada busway :
1. Waktu tempuh lebih cepat
2. Faktor kenyamanan lebih baik
3. Ketersediaan kendaraan

1. Waktu tempuh lebih cepat
Beberapa waktu lalu, salah satu stasiun TV swasta pernah membandingkan perjalanan dari Harmoni ke Ragunan, namun yang satu menggunakan mobil pribadi dan yang lainnya menggunakan busway. Dalam perjalanan tersebut waktu tempuhnya 1,5 jam dan hanya selisih beberapa menit. Selama perjalanan mobil pribadi tersebut sempat tertahan karena macet. Busway juga mengalami hambatan dalam perjalanan, hal ini karena busway harus mengantri dengan kendaraan pribadi yang menghalangi jalurnya.

2. Faktor kenyamanan lebih baik
Di dalam busway faktor kenyamanan tampaknya menjadi nomor kesekian bagi pengelola. Dengan keterbatasan sarana, kapasitas nornal bus diabaikan. Sepanjang masih bisa, penumpang terus ditambah. Ketidaknyamanan ini bukan hanya menjadi milik penumpang yang berdiri, bahkan penumpang yang duduk juga. Kondisi berbeda saat berada di mobil pribadi, AC mobil yang tetap setia terus menyejukkan udara.

3. Ketersediaan kendaraan
Banyak karyawan yang harus pulang lebih malam (lembur) dan baru bisa meninggalkan kantor sekitar pukul 21.00 - 22.00. Sekarang ini pukul segitu tidak ada lagi busway yang seharusnya bisa mengantarkan mereka untuk pulang. Terpaksa naik bis atau naik taksi (untuk hal ini otomatis pengeluaran harus bertambah).

Melihat ilustrasi di atas, bukan tidak mungkin keberadaan busway hanya digunakan oleh masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi dan yang memiliki kendaraan pribadi akan tetap menggunakannya walaupun harus membayar mahal dari sisi BBM. Masyarakat yang kritis pasti menilai bahwa busway ini belum bisa dikatakan transportasi massal ibukota yang mampu mengurangi kemacetan, namun malah menjadi sumber masalah. Sebagai contoh beberapa teman saya harus masuk rumah sakit karena terjatuh dari motor saat menabrak separator busway.

Tapi pemerintah masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki bahkan meningkatkan kualitas busway, agar busway dapat dilirik juga oleh masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi. Karena berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi, akan mengurangi jumlah kendaraan pribadi dan kemacetan juga akan berkurang. Mari kita wujudkan Jakarta menjadi daerah percontohan daerah lain di Nusantara.

created by : sistem-life

Tidak ada komentar: