Seperti hari-hari sebelumnya aku berangkat ke tempat kerja. Sepanjang perjalanan dari Cawang menuju Tanjung Priok dengan memacu sepeda motor berusaha sampai ke tempat kerja dengan waktu yang lebih cepat. Jalan di sepanjang jalan DI Panjaitan sebagian rusak, terpaksa deh ambil jalur kanan (jalur Busway) mumpung masih pagi dan belum ada yang ngelarang.
Berbicara tentang busway, proyek warisan dari Pak Yos untuk Pak Foke belum rampung juga. Padahal rencana sebelumnya tuh proyek beres sekitar pertengahan Desember 2008 kemarin, sekarang saja sudah pertengahan April 2008, berarti dah molor sekitar 4 bulan dan belum tahu juga kapan GONG busway Kampung Rambutan-Tanjung Priok PP itu akan rampung.
Busway merupakan transportasi massal yang diciptakan untuk mengurangi kemacetan akibat semrawutnya sistem pertransportasian terutama di ibukota. Jika proyek ini sukses, maka jarak tempuh Cawang-Tanjung Priok yang biasanya memakan waktu 1 jam akan mampu dicapai dalam waktu 30 hingga 45 menit.
Sebenarnya busway ini belum sepenuhnya memenuhi keinginan masyarakat. Sebagai contoh hal-hal berikut ini yang membuat kendaraan pribadi lebih unggul dari pada busway :
1. Waktu tempuh lebih cepat
2. Faktor kenyamanan lebih baik
3. Ketersediaan kendaraan
1. Waktu tempuh lebih cepat
Beberapa waktu lalu, salah satu stasiun TV swasta pernah membandingkan perjalanan dari Harmoni ke Ragunan, namun yang satu menggunakan mobil pribadi dan yang lainnya menggunakan busway. Dalam perjalanan tersebut waktu tempuhnya 1,5 jam dan hanya selisih beberapa menit. Selama perjalanan mobil pribadi tersebut sempat tertahan karena macet. Busway juga mengalami hambatan dalam perjalanan, hal ini karena busway harus mengantri dengan kendaraan pribadi yang menghalangi jalurnya.
2. Faktor kenyamanan lebih baik
Di dalam busway faktor kenyamanan tampaknya menjadi nomor kesekian bagi pengelola. Dengan keterbatasan sarana, kapasitas nornal bus diabaikan. Sepanjang masih bisa, penumpang terus ditambah. Ketidaknyamanan ini bukan hanya menjadi milik penumpang yang berdiri, bahkan penumpang yang duduk juga. Kondisi berbeda saat berada di mobil pribadi, AC mobil yang tetap setia terus menyejukkan udara.
3. Ketersediaan kendaraan
Banyak karyawan yang harus pulang lebih malam (lembur) dan baru bisa meninggalkan kantor sekitar pukul 21.00 - 22.00. Sekarang ini pukul segitu tidak ada lagi busway yang seharusnya bisa mengantarkan mereka untuk pulang. Terpaksa naik bis atau naik taksi (untuk hal ini otomatis pengeluaran harus bertambah).
Melihat ilustrasi di atas, bukan tidak mungkin keberadaan busway hanya digunakan oleh masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi dan yang memiliki kendaraan pribadi akan tetap menggunakannya walaupun harus membayar mahal dari sisi BBM. Masyarakat yang kritis pasti menilai bahwa busway ini belum bisa dikatakan transportasi massal ibukota yang mampu mengurangi kemacetan, namun malah menjadi sumber masalah. Sebagai contoh beberapa teman saya harus masuk rumah sakit karena terjatuh dari motor saat menabrak separator busway.
Tapi pemerintah masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki bahkan meningkatkan kualitas busway, agar busway dapat dilirik juga oleh masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi. Karena berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi, akan mengurangi jumlah kendaraan pribadi dan kemacetan juga akan berkurang. Mari kita wujudkan Jakarta menjadi daerah percontohan daerah lain di Nusantara.
created by : sistem-life
28 April 2008
Busway...
26 April 2008
Wanita yang Mau Memaafkan
Di ruang pengadilan itu duduk seorang wanita berusia sekitar 70 tahun dan di wajahnya tergambar goresan penderitaan dan kesedihan yang dialaminya selama bertahun-tahun. Sementara di kursi terdakwa duduk Van der Broek, pria berdarah dingin yang membunuh anak laki- laki dan suaminya. Kekejaman pria itu kembali bermain di benaknya. Beberapa tahun yang lalu Van der Broek datang kerumahnya. Dengan paksa ia mengambil anak laki-lakinya, kemudian menembak dan membakarnya. Beberapa tahun kemudian Van der Broek kembali untuk menculik suaminya. Wanita itu hidup dalam ketidakpastian, apakah suaminya masih hidup atau sudah tewas terbunuh. Dua tahun kemudian penculik itu kembali dan mengajaknya ke tepi sebuah sungai. Di sana ia melihat suaminya diikat, disiksa dan berdiri di tumpukan kayu kering yang sudah disiram bensin. Api yang berkobar pun memisahkan mereka dengan diiringi tangis air mata yang seolah tak mau berhenti. Teriakan suaminya, “Bapa, ampunilah mereka,” masih terngiang di telinganya.
Akhirnya polisi berhasil menangkap Van der Broek. Di pengadilan ia terbukti bersalah dan harus menerima hukuman sesuai dengan keputusan hakim. Sebelum memutuskan hukumannya, hakim bertanya, “Nyonya, menurut Anda apa yang harus dilakukan pengadilan terhadap orang yang secara brutal telah menghabisi keluarga anda?“ Wanita Negro yang renta itu perlahan bangkit berdiri kemudian berkata, “Yang Mulia, saya menginginkan tiga hal. Pertama, saya ingin dia dibawa ke pinggir sungai di mana suami saya terbunuh. Saya akan mengumpulkan debunya dan menguburkannya secara terhormat. Yang kedua, Van der Broek menjadi anak saya. Saya ingin dia datang dua kali sebulan ke ghetto ( perumahan orang Negro ) dan melewatkan waktu sehari bersama saya sehingga saya dapat mencurahkan kasih sayang saya kepadanya. Dan yang ketiga, saya ingin Van der Broek tahu bahwa saya telah mengampuninya, dan alasan lainnya karena permintaan terakhir suami saya. Yang Mulia, bolehkah saya meminta seseorang membantu saya maju ke depan untuk memeluk Van der Broek sebagai bukti bahwa saya benar-benar telah mengampuninya?“ Hakim tak tahu harus berkata apa selain menganggukkan kepalanya tanpa setuju. Kemudian seorang petugas menuntun wanita itu berjalan ke hadapan Van der Broek. Semua orang dalam ruangan itu terharu, termasuk Van der Broek yang jatuh pingsan saat akan dipeluk wanita berhati emas itu. (diambil dari berbagai sumber-MS)
06 April 2008
WORTEL, TELUR DAN KOPI
Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul
masalah baru. Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.
Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi 'kesulitan' yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
"Kamu termasuk yang mana ?," tanya ayahnya. "Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi ? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu."
"Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut ? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku ?"
"Ataukah kamu adalah bubuk kopi ? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat." "Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik."
"Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri …".
Sumber : Air Putih Read More......
04 April 2008
MEWUJUDKAN IMPIAN
Pada suatu saat hiduplah seorang anak laki-laki bernama Monty. Ayahnya adalah seorang pelatih kuda miskin yang kerjanya melatih kuda-kuda di tiap peternakan, pindah dari satu tempat ke tempat yang lain,dari satu peternakan dari peternakan yang lain. Singkat cerita sang anak sering pindah-pindah sekolah karena mengikuti pekerjaan sang ayah.
Akhirnya karangan itu dikumpul pada hari esoknya, 2 hari kemudian semua karangan dikembalikan oleh sang guru kepada murid. Namun Monty melihat karangan tersebut dengan kecewa karena karangan tersebut mendapat nilai F serta terdapat tulisan oleh gurunya "Mohon bertemu saya setelah kelas". Hanya Monty seorang yang mendapat nilai F pada saat itu. Ketika bertemu dengan gurunya Monty langsung protes dengan nilai tersebut. Tapi malah sang guru yang balik menyalahkan Monty. Gurunya berkata,”Semua yang kaubuat itu adalah impian yang tidak masuk akal, semuanya terlalu besar buat anak seukuran engkau. Engkau hanyalah seorang anak dari pelatih kuda miskin, mana mungkin bisa mewujudkan itu semua. Itu memerlukan biaya yang sangat besar sekali, kamu tidak punya latar belakang apapun, bahkan engkau sekarang tidak menyiapkan sedikitpun untuk membangun ini, mana mungkin ini semua bisa terjadi. Kamu saya berikan waktu untuk memperbaiki karangan ini. Apabila kamu membuat sesuatu yang lebih masuk akal, nilaimu akan saya ubah". Akhirnya Monty pulang dan berpikir, apakah dia harus merubah semua karangannya. Dia bertanya kepada sang ayah, dan sang ayah dengan bijak hanya berkata, "Monty, ini semua terserah kepadamu. Karena ini semua menyangkut masa depanmu, jadi hanya engkau sendirilah yang bisa menentukan hidupmu".
Satu minggu telah berlalu, dan akhirnya Monty mengumpulkan karangan tersebut tanpa merubah sedikit pun. Monty kecil hanya menulis, "Guru engkau boleh menyimpan nilai F tersebut, tapi aku akan tetap menyimpan impian ini"
Puluhan tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Sekarang Monty yang telah dewasa bercerita kepada grupnya, “Saya bercerita seperti ini kepada kalian karena guru saya tersebut. Kini lihatlah sekeliling kalian. Kalian berada di lahan peternakan kuda saya seluas 200 hektar. Saya masih menyimpan karangan dulu tersebut bahkan membingkainya dan tetap bertulisan huruf F untuk nilainya".
Dua musim panas yang lalu bahkan guru yang memberi nilai F tersebut datang kepada Monty bersama 30 orang anak kecil lainnya untuk melihat peternakan kuda Monty. Pada saat pulang, sang guru berkata kepada Monty, "Monty, sekarang saya bisa katakan kepada anda pada saat saya menjadi guru anda, saya telah menjadi orang yang mencuri banyak impian dari anak-anak seperti anda, tetapi anda sungguh luar biasa untuk terus mempertahankan impian tersebut......"
Catatan :
Apakah anda akan menjadi seperti Monty atau menjadi seperti seorang guru yang terus menerus akan mencuri IMPIAN orang-orang terdekat anda bahkan orang-orang yang anda cintai ? Rintangan pasti tetap akan ada bagi orang2 yang mempunyai impian dan berusaha untuk mewujudkannya. Cerita Monty ini mungkin sedikit banyak akan memberi masukan kepada anda mengenai pentingnya IMPIAN dalam kehidupan.
Jangan takut untuk terus mencoba apabila impian anda masih belum terwujud. Berjuang terus untuk masa depan anda yang lebih baik !
"Jangan takut untuk bermimpi besar, karena apabila anda ingin besar maka anda harus bermimpi besar, serta jangan lihat diri anda sekarang sepertiapa tapi lihatlah diri anda nanti anda akan jadi seperti apa "
"The Future Belong To Those Who Believe The Beauty Of The Dreams"
02 April 2008
PATUNG SANG PEMAHAT
Suatu ketika, hiduplah seorang pemahat. Pemahat ini, bekerja pada seorang raja yang masyhur dengan tanah kekuasaannya. Wilayah pemerintahannya sangatlah luas. Hal itu membuat siapapun yang mengenalnya, menaruh hormat pada raja ini. Sang pemahat, sudah lama sekali bekerja pada raja ini. Tugasnya adalah membuat patung-patung yang diletakkan menghiasi taman-taman istana. Pahatannya indah, karena itulah, ia menjadi kepercayaan raja itu sejak lama. Ada banyak raja-raja sahabat yang mengagumi keindahan pahatannya saat mengunjungi taman istana.
Sang pemahat pun mulai bekerja keras, siang dan malam. Beberapa bulan kemudian, tugas itu hampir selesai. Sang Raja kemudian datang memeriksa tugas yang di perintahkannya. “Bagus. Bagus sekali, ujar sang Raja. Sebelum aku lupa, buatlah juga patung dirimu sendiri, untuk melengkapi monumen ini.”
Waktu yang dimintapun telah usai. Sang raja kembali datang, untuk melihat pekerjaan pemahat. Ia pun puas. Namun, ada satu hal kecil yang menarik perhatiannya. “Mengapa patung dirimu tak sehalus patung diriku ? Padahal, aku ingin sekali meletakkan patung dirimu di dekat patungku. Kalau ini yang terjadi, tentu aku akan membatalkannya, dan menempatkan mu bersama patung prajurit yang lain di depan sana.” Menyesal dengan perbuatannya, sang pemahat hanya bisa pasrah. Patung dirinya, hanya bisa hadir di depan, terkena panas dan hujan, seperti harapan yang dimilikinya...
Sumber : Ladang Kehidupan Read More......