Bopsy adalah seorang anak laki-laki yang cerdas berumur tujuh tahun dan tinggal di Los Angeles. Sebagai seorang anak tunggal,
Bopsy tergolong anak yang cerdas dan suka menolong temantemannya. Dia mempunyai cita-cita ingin menjadi seorang petugas pemadam
kebakaran, karena menurutnya pekerjaan tersebut sangat menantang dan mulia. Namun nasib baik tampaknya kurang berpihak kepada Bopsy.
Suatu hari Bopsy pingsan ketika berada di sekolah. Dari pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter, nampaknya Bopsy menderita suatu
kanker ganas di kepalanya, dan usianya diperkirakan hanya dapat bertahan dua bulan lagi.
Sang ibu, tidak dapat menahan kesedihannya dan menangis tersedu-sedu mendengar vonis dokter tersebut. Kemudian sambil terisak,
ibu tersebut mendekati Bopsy dan bertanya,”Anakku, jikalau dapat, ibu ingin memberikan seluruh hidupku sebagai pengganti
kehidupanmu. Rasanya tidak adil bahwa kamu hanya dapat mengecap sesaat kehidupan yang indah ini. Apakah yang dapat ibu perbuat
anakku, sehingga dirimu dapat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, walau waktumu hanya dua bulan ?”. “Ibu”, jawab
Bopsy, “Ibu sudah tahu bahwa sejak dulu aku ingin sekali menjadi seorang petugas pemadam kebakaran. Bolehkah aku mulai bekerja
sekarang?” pinta Bopsy dengan penuh harap. “Tentu anakku, tentu saja. Kau dapat bekerja mulai besok”. Kebetulan sang ibu
mempunyai seorang teman baik yang bekerja sebagai komandan pemadam kebakaran di Los Angeles. Sang ibu mengemukakan apa yang terjadi
pada Bopsy, dan Fred, komandan pemadam itu merasa tersentuh hatinya. Dia setuju bila Bopsy dapat membantu tugasnya secepatnya.
/>
Keesokan harinya adalah hari yang paling membanggakan bagi Bopsy. Sepulang dari sekolah, secepatnya dia berlari kerumah, makan
siang, kemudian berlari cepat-cepat dengan seragam pemadam yang dibanggakannya itu ke markasnya yang baru di ujung jalan tersebut.
Bopsy mulai berlatih sama seperti rekan-2 lainnya yang sudah dewasa, berlari, memanjat, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Dalam satu
bulan setelah Bopsy bergabung, dia sudah tiga kali ikut dengan rekan-2nya untuk memadamkan kebakaran.
Dan Bopsy melakukan itu semua dengan penuh semangat dan motivasi yang luar biasa. Semua rekan-2nya yang lain merasa kagum dan
tersentuh hatinya dengan apa yang dilakukan Bopsy, karena mereka tahu bahwa rekan kecil mereka tidak lama lagi akan meninggalkan
mereka. Hanya satu hal yang masih mengganjal di hati Bopsy, bahwa karena keterbatasan tubuhnya yang masih kecil, setiap kali
bertugas di lokasi kebakaran, Bopsy hanya bertugas untuk mengatur selang-selang air saja. Bopsy tidak puas dengan hal itu, karena
menurutnya petugas pemadam kebakaran yang sejati adalah kalau mereka sudah berhasil menyelamatkan seorang korban dari lantai atas
gedung dan membawanya turun dengan selamat.
Dan hari terakhir itupun tibalah. Bopsy terbaring lemah di tempat tidur di rumah sakit di lantai tiga. Seluruh keluarga dan
rekan-rekannya sesama petugas pemadam kebakaran telah hadir di samping tempat tidurnya. Mereka menunggu detik-detik akhir kehidupan
Bopsy sambil meneteskan air mata. Sang ibu sambil tersedu bertanya kepada Bopsy,”Anakku, masih adakah yang dapat ibu lakukan agar
dirimu dapat pergi dengan tenang ?” Bopsy, dengan lemah berkata,”Aku sudah menjadi petugas pemadam kebakaran, tapi aku belum
pernah satu kalipun menyelamatkan seseorang. Aku belumlah menjadi seorang petugas pemadam kebakaran yang sejati. Bisakah aku
melakukan itu sekarang, Mr. Fred ?“ sambil bertanya matanya menatap sang komandan.
Fred, sang komandan menarik napas menahan haru lalu berkata “Baiklah Bopsy, sekarang juga saya perintahkan kamu untuk membawa
boneka Teddymu untuk turun ke bawah”. Kemudian Fred membuka jendela rumah sakit di lantai tiga tersebut, dan memerintahkan
rekan-2nya yang berada di bawah untuk mengarahkan tangga mobil pemadam ke jendela tersebut. Bopsy, dengan sisa tenaga yang ada dan
langkah yang gemetar mulai berjalan menggendong boneka Teddynya dan berjalan ke jendela tersebut. Dan dibawah sana, ratusan orang
sudah berkumpul untuk menyaksikan peristiwa yang luar biasa ini. Rupanya, berita mengenai Bopsy telah menyebar hingga ke seluruh
pelosok kota. Perlahan-lahan, satu demi satu, Bopsy mulai menuruni tangga pemadam tersebut. Semua orang bertepuk tangan dan mereka
berteriak “Bopsy ….. Bopsy……Ayo, kamu bisa !”. Dan Bopsy terus turun langkah demi langkah.
Akhirnya sampailah juga Bopsy di bawah. Tenaganya benar-benar telah habis begitu dia sampai di bawah. Ratusan orang yang
mengerumuninya semua bertepuk tangan sambil menangis, mereka terus berteriak “Bopsy …. Bopsy…!”. Dan Bopsy, dengan tersenyum,
berkata “Terima kasih ibu, terima kasih Mr. Fred, karena sudah memberikan saya kesempatan untuk menjadi petugas pemadam kebakaran
yang sejati. Sekarang, ijinkan saya pergi”. Dan Bopsy pun meninggal dengan tenang dalam pelukan ibunya …………………….
Diadaptasi dari DARE TO WIN
By Mark Victor Hansen & Jack Canfield
Tidak ada komentar:
Posting Komentar