30 Maret 2008

MELIHAT DENGAN HATI

Dua malaikat yang sedang melakukan perjalanan ke luar kota, singgah pada rumah seorang yang kaya raya. Keluarga tersebut kasar

dan tidak mengijinkan kedua malaikat tersebut tidur di dalam rumah besar mereka. Sebagai gantinya, mereka menyuruh kedua malaikat

tersebut tinggal di gudang bawah tanah mereka yang dingin, kotor, tanpa pemanas. Ketika sedang menyiapkan tempat tidur mereka,

malaikat yang lebih tua melihat sebuah lubang di dinding, dan lalu memperbaikinya. Ketika malaikat yang lebih muda bertanya,

malaikat yang tua itu menjawab: "Tidak semua hal itu sebagaimana tampaknya."


Malam berikutnya, kedua malaikat tersebut menginap di sebuah Keluarga petani yang miskin, tetapi sangat ramah. Setelah berbagi

makanan yang serba sedikit, pasangan petani tersebut mempersilahkan kedua malaikat tersebut tidur di tempat tidur mereka, sedangkan

mereka sendiri tidur di lantai.


Ketika matahari muncul di ufuk timur keesokan paginya, mereka menemukan pasangan petani tersebut sedang menangis sedih. Ternyata,

sapi yang merupakan satu-satunya sumber penghidupan mereka, yang memberikan susu setiap pagi, tergeletak mati di pinggir ladang

mereka.


Malaikat muda menjadi marah dan mencaci maki malaikat tua, katanya: "Mengapa engkau tega melakukan semua ini kepada mereka ?

Mengapa engkau membiarkan semua ini terjadi ? Kemarin kita mendapat kesempatan untuk menginap di rumah seorang kaya raya. Kita

dibiarkan tidur di gudang yang kotor dan dingin, tetapi kamu masih membantu mereka dengan memperbaiki dindingnya yang bolong. Malam

ini kita menginap di rumah seorang petani miskin yang begitu ramah dan mau berbagi, tetapi apa yang kamu lakukan ? Kamu biarkan sapi

yang merupakan satu-satunya sumber hidup, mati. Maumu apa, sih ?"
. Malaikat tua menjawab singkat: "Tidak semua hal itu

sebagaimana tampaknya.
"


Ketika malaikat muda mendesak untuk menjelaskan, malaikat tua berkata : "Waktu kita menginap di tempat orang kaya kemarin, aku

melihat sebuah lubang di dinding. Di dalamnya ada kepingan emas. Tetapi karena orang kaya tersebut sangat tamak, tidak mau berbagi,

dan tidak bisa ramah kepada orang lain, maka dinding tersebut kututup. Biar mereka tidak tahu dan tidak dapat mengambil emas

tersebut. Lalu malam ini, ketika kita tidur di ranjang Pak Tani, dan mereka mengalah tidur di lantai, malaikat maut datang hendak

mengambil isteri petani itu. Tetapi aku belokkan dan sebagai gantinya, malaikat maut itu mengambil sapi Pak Tani. JADI, JANGANLAH

ENGKAU MENGHAKIMI SAYA DENGAN MEMUTUSKAN TINDAKAN SAYA BENAR ATAU TIDAK HANYA DARI APA YANG KAU LIHAT. TAPI BELAJARLAH DARI TINDAKAN

SAYA DENGAN MENGETAHUI APA MOTIF SUATU TINDAKAN. JANGAN HANYA SEKEDAR MELIHAT DENGAN MATA, TAPI LIHATLAH SESUATU JUGA DENGAN

HATIMU!
”.


Sumber : Air Putih

Read More......

26 Maret 2008

MAGY DAN BUKU CERITA

Semuanya itu disadari John pada saat dia termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia

mencoba untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-sia belaka. Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan

anaknya Magy di suatu sore. 3 minggu yang lalu John membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi

dengan para pemegang saham. Pada saat John memeriksa pekerjaannya, Magy putrinya yang baru berusia 2 tahun datang menghampiri,

sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau dengan gambar peri. Dia berkata dengan suara manjanya,

"Papa lihat!" John menengok kearahnya dan berkata, "Wah, buku baru ya?" "Ya Papa!" katanya berseri-seri, "Bacain

dong !" "Wah, Ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh"
, kata John dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada

tumpukan kertas di depan hidungnya.


Magy hanya berdiri terpaku disamping John sambil memperhatikan. Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat- buat mulai

merayu kembali "Tapi mama bilang Papa akan membacakannya untuk Magy". Dengan perasaan agak kesal John menjawab: "Magy

dengar, Papa sangat sibuk. Minta saja Mama untuk membacakannya". "Tapi Mama lebih sibuk daripada Papa"
katanya sendu. "Lihat

Papa, gambarnya bagus dan lucu." "Lain kali Magy, sana. Papa sedang banyak kerjaan."


John berusaha untuk tidak memperhatikan Magy lagi. Waktu berlalu, Magy masih berdiri kaku disebelah Ayahnya sambil memegang erat

bukunya. Tiba-tiba Magy mulai lagi "Tapi Papa, gambarnya bagus sekali dan ceritanya pasti bagus ! Papa pasti akan suka". "Magy,

sekali lagi Ayah bilang : Lain kali !"
dengan agak keras John membentak anaknya. Hampir menangis Magy mulai menjauh, "Iya

deh, lain kali ya Papa, lain kali"
. Tapi Magy kemudian mendekati Ayahnya sambil menyentuh lembut tangannya, menaruh bukunya

dipangkuan sang Ayah sambil berkata "Kapan saja Papa ada waktu ya, Papa tidak usah baca untuk Magy, baca saja untuk Papa. Tapi

kalau Papa bisa, bacanya yang keras ya, supaya Magy juga bisa ikut dengar"
. John hanya diam.


Kejadian 3 minggu yang lalu itulah sekarang yang ada dalam pikiran John. John teringat akan Magy yang dengan penuh pengertian

mengalah. Magy yang baru berusia 4 tahun meletakkan tangannya yang mungil di atas tangannya yang kasar mengatakan: "Tapi kalau

bisa bacanya yang keras ya Pa, supaya Magy bisa ikut dengar"
. Dan karena itulah John mulai membuka buku cerita yang diambilnya,

dari tumpukan mainan Magy di pojok ruangan. John mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai membacanya. John sudah

melupakan pekerjaannya yang dulunya amat sangat penting. Ia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya terhadap pemuda mabuk yang

dengan kencangnya menghantam tubuh putrinya di jalan depan rumah. John terus membaca halaman demi halaman sekeras mungkin. Sambil

berharap cukup keras bagi Magy untuk dapat mendengar dari tempat peristirahatannya yang terakhir......


Sumber : Network 21

Read More......

21 Maret 2008

B O P S Y

Bopsy adalah seorang anak laki-laki yang cerdas berumur tujuh tahun dan tinggal di Los Angeles. Sebagai seorang anak tunggal,

Bopsy tergolong anak yang cerdas dan suka menolong temantemannya. Dia mempunyai cita-cita ingin menjadi seorang petugas pemadam

kebakaran, karena menurutnya pekerjaan tersebut sangat menantang dan mulia. Namun nasib baik tampaknya kurang berpihak kepada Bopsy.

Suatu hari Bopsy pingsan ketika berada di sekolah. Dari pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter, nampaknya Bopsy menderita suatu

kanker ganas di kepalanya, dan usianya diperkirakan hanya dapat bertahan dua bulan lagi.


Sang ibu, tidak dapat menahan kesedihannya dan menangis tersedu-sedu mendengar vonis dokter tersebut. Kemudian sambil terisak,

ibu tersebut mendekati Bopsy dan bertanya,”Anakku, jikalau dapat, ibu ingin memberikan seluruh hidupku sebagai pengganti

kehidupanmu. Rasanya tidak adil bahwa kamu hanya dapat mengecap sesaat kehidupan yang indah ini. Apakah yang dapat ibu perbuat

anakku, sehingga dirimu dapat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, walau waktumu hanya dua bulan ?”
. “Ibu”, jawab

Bopsy, “Ibu sudah tahu bahwa sejak dulu aku ingin sekali menjadi seorang petugas pemadam kebakaran. Bolehkah aku mulai bekerja

sekarang?”
pinta Bopsy dengan penuh harap. “Tentu anakku, tentu saja. Kau dapat bekerja mulai besok”. Kebetulan sang ibu

mempunyai seorang teman baik yang bekerja sebagai komandan pemadam kebakaran di Los Angeles. Sang ibu mengemukakan apa yang terjadi

pada Bopsy, dan Fred, komandan pemadam itu merasa tersentuh hatinya. Dia setuju bila Bopsy dapat membantu tugasnya secepatnya.

/>


Keesokan harinya adalah hari yang paling membanggakan bagi Bopsy. Sepulang dari sekolah, secepatnya dia berlari kerumah, makan

siang, kemudian berlari cepat-cepat dengan seragam pemadam yang dibanggakannya itu ke markasnya yang baru di ujung jalan tersebut.

Bopsy mulai berlatih sama seperti rekan-2 lainnya yang sudah dewasa, berlari, memanjat, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Dalam satu

bulan setelah Bopsy bergabung, dia sudah tiga kali ikut dengan rekan-2nya untuk memadamkan kebakaran.


Dan Bopsy melakukan itu semua dengan penuh semangat dan motivasi yang luar biasa. Semua rekan-2nya yang lain merasa kagum dan

tersentuh hatinya dengan apa yang dilakukan Bopsy, karena mereka tahu bahwa rekan kecil mereka tidak lama lagi akan meninggalkan

mereka. Hanya satu hal yang masih mengganjal di hati Bopsy, bahwa karena keterbatasan tubuhnya yang masih kecil, setiap kali

bertugas di lokasi kebakaran, Bopsy hanya bertugas untuk mengatur selang-selang air saja. Bopsy tidak puas dengan hal itu, karena

menurutnya petugas pemadam kebakaran yang sejati adalah kalau mereka sudah berhasil menyelamatkan seorang korban dari lantai atas

gedung dan membawanya turun dengan selamat.


Dan hari terakhir itupun tibalah. Bopsy terbaring lemah di tempat tidur di rumah sakit di lantai tiga. Seluruh keluarga dan

rekan-rekannya sesama petugas pemadam kebakaran telah hadir di samping tempat tidurnya. Mereka menunggu detik-detik akhir kehidupan

Bopsy sambil meneteskan air mata. Sang ibu sambil tersedu bertanya kepada Bopsy,”Anakku, masih adakah yang dapat ibu lakukan agar

dirimu dapat pergi dengan tenang ?”
Bopsy, dengan lemah berkata,”Aku sudah menjadi petugas pemadam kebakaran, tapi aku belum

pernah satu kalipun menyelamatkan seseorang. Aku belumlah menjadi seorang petugas pemadam kebakaran yang sejati. Bisakah aku

melakukan itu sekarang, Mr. Fred ?“
sambil bertanya matanya menatap sang komandan.


Fred, sang komandan menarik napas menahan haru lalu berkata “Baiklah Bopsy, sekarang juga saya perintahkan kamu untuk membawa

boneka Teddymu untuk turun ke bawah”
. Kemudian Fred membuka jendela rumah sakit di lantai tiga tersebut, dan memerintahkan

rekan-2nya yang berada di bawah untuk mengarahkan tangga mobil pemadam ke jendela tersebut. Bopsy, dengan sisa tenaga yang ada dan

langkah yang gemetar mulai berjalan menggendong boneka Teddynya dan berjalan ke jendela tersebut. Dan dibawah sana, ratusan orang

sudah berkumpul untuk menyaksikan peristiwa yang luar biasa ini. Rupanya, berita mengenai Bopsy telah menyebar hingga ke seluruh

pelosok kota. Perlahan-lahan, satu demi satu, Bopsy mulai menuruni tangga pemadam tersebut. Semua orang bertepuk tangan dan mereka

berteriak “Bopsy ….. Bopsy……Ayo, kamu bisa !”. Dan Bopsy terus turun langkah demi langkah.


Akhirnya sampailah juga Bopsy di bawah. Tenaganya benar-benar telah habis begitu dia sampai di bawah. Ratusan orang yang

mengerumuninya semua bertepuk tangan sambil menangis, mereka terus berteriak “Bopsy …. Bopsy…!”. Dan Bopsy, dengan tersenyum,

berkata “Terima kasih ibu, terima kasih Mr. Fred, karena sudah memberikan saya kesempatan untuk menjadi petugas pemadam kebakaran

yang sejati. Sekarang, ijinkan saya pergi”
. Dan Bopsy pun meninggal dengan tenang dalam pelukan ibunya …………………….


Diadaptasi dari DARE TO WIN

By Mark Victor Hansen & Jack Canfield


Read More......

10 Maret 2008

Doa Anak Peserta Lomba Balap Mobil Mainan

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil
balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak
final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil
mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah
peraturannya.


Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk
dalam 4 anak yang masuk final.
Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna.
Beberapa anak menyangsikan kekuatan
mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu
tak begitu menarik.
Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak
sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun,
Mark bangga
dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.


Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan.
Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka
kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4
pembalap"
kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di
antaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum
lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa.


Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu,
semenit kemudian, ia berkata,
"Ya, aku siap!" Dor!!! Tanda telah dimulai.
Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat.
Semua mobil tu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai,
bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.


"Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka.
Ahha... sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah
terlambai.
Dan... Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia
berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."


Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum
piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti
tadi berdoa kepada
Tuhan agar kamu menang, bukan?"

Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan," kata Mark.
Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan
untuk menolongku mengalahkan orang
lain, aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku
kalah."


Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah
gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.


Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita
semua.
Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian.
Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang
ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua
harapannya.
Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya.


Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat
menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau
menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu
yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap
permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan
kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap
ujian.
Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan
dan cobaan yang ada didepan mata.


Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya,
dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita
kuat.
Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini.
Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui?
Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat
kita lemah, cengeng dan mudah menyerah.

Read More......

01 Maret 2008

Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek
sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah.
Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada
sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan
yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha
menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.



Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah
mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan
rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai
taulan yang datang kepadanya untuk meminta
pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally
idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena
tabungannya tak pernah mencukupi.


Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan
iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih
tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari
seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya
waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung
Hatta untuk memperoleh sepatu Bally.
Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau
pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.


"Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta.
Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan
sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan
sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih
mendahulukan orang lain daripada kepentingannya
sendiri,"
kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana
Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah
keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah
carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden,
dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.


Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap
mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari
meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi
pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus
berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung
pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat
meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan
ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak
mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini
menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista
karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari
orang asing.

Read More......