20 Januari 2008

Tolong Kembalikan Tangan Ita

Gadis kecil berusia empat tahun itu sedang asyik mencoret- coret tanah di pekarangan rumahnya, sementara pembantu yang menjaganya sedang menjemur pakaian. Beberapa waktu kemudian, Ita si gadis kecil ini menemukan paku berkarat dan memakainya untuk menggambar. Kemudian Ita berjalan ke garasi dan mulai menggoreskan paku itu di sedan hitam yang baru dibeli papanya. Dapat dibayangkan apa yang terjadi dengan sedan itu.



Sore harinya, ketika mama dan papanya pulang, dengan bangga Ita menarik tangan papanya untuk memperlihatkan hasil karyanya di garasi itu dengan cepat memompa emosi papanya dan karena lepas kendali papanya memukuli tangan Ita dengan mistar. “Ampun Pa…ampun Pa…,“ itulah jeritan yang keluar dari mulut Ita tapi jeritan itu tidak dihiraukan oleh papanya. Setelah merasa puas papanya berhenti dan menyuruh pembantu untuk mengurusi Ita yang baru saja didisiplin tanpa pembelaan sang mama.




Tangis yang panjang melelahkan Ita dan ia pun tertidur. Ketika pembantu memandikannya, dari awal sampai selesai mandi Ita menangis karena rasa perih di kedua tangannya. Ketika si pembantu memberitahukan majikannya, mereka hanya menyuruhnya untuk mengoleskan salep. Keesokan harinya mereka bekerja seperti biasanya, sementara tangan Ita mulai membengkak. Saat si pembantu menelepon nyonyanya, ia kembali diperintahkan untuk mengoleskan salep dan memberi obat demam. Hari berganti dan suhu badan itu mulai naik, namun kedua orang tuanya tidak serius mengobati tangan Ita sampai suatu hari suhu tubuh Ita sangat tinggi. Dengan panik mereka pun membawa Ita ke rumah sakit. Diagnosa dokter, Ita demam diakibatkan oleh luka- luka di tangannya. Setelah diopname selama satu minggu, akhirnya dengan berat hati dokter memberitahukan kondisi Ita. “Tangannya yang bernanah telah membusuk. Untuk menyelamatkan Ita maka kami harus mengamputasi tangannya.“ Dengan derai air mata dan penyesalan yang tak habisnya, Papa dan Mama Ita menandatangani surat persetujuan. Singkat cerita, Ita dioperasi dan setelah siuman dengan menahan rasa sakit di tangannya ia berkata, “Pa, Ita nggak akan nakal lagi. Ita sayang sama Papa, sama Mama, tapi Pa, tolong kembalikan tangan Ita. Kalau nggak pinjam aja Pa, Ita janji nggak akan mengulanginya, Ita nggak akan nakal lagi. Ayo Pa, kembalikan tangan Ita….“ Semua orang yang ada di ruangan itu membisu, hanya isak tangis dan derai air mata yang berbicara mewakili kesedihan dan penyesalan mereka.



Efek yang ditimbulkan oleh amarah dan kehilangan kendali adalah rasa sakit dan rasa bersalah. Dalam sebuah keluarga, kesalahan seorang anak berpotensi meningkatkan emosi orang tua, namun seharusnya orang tua mempersiapkan diri dengan penguasaan diri yang tinggi sehingga dapat mendidik anaknya tanpa meninggalkan luka-luka batin pada anaknya.(diambil dari berbagai sumber-MS)

Read More......

16 Januari 2008

JANGKRIK DAN UANG LOGAM



Suatu hari seorang dari desa mengunjungi temannya di kota. Bunyi
ribut mobil dan derap orang yang lalu lalang sangat menganggu
orang desa itu. Kedua orang itu kemudian berjalan-jalan dan tiba-tiba
orang desa itu berhenti, menepuk pundak temannya dan berbisik ,”Berhentilah
sebentar. Apakah kamu mendengar apa yang kudengar?”
Teman kotanya itu
menoleh ke arah orang desa itu dan tersenyum, dan kemudian berkata ,”Yang
saya dengar hanyalah suara klakson mobil serta suara orang lalu lalang. Apa
yang kau dengar?" "Ada seekor jangkrik di dekat sini dan saya bisa mendengar
suara nyanyiannya“
jawab si orang desa.

Teman dari kota itu mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu
menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata ,”Saya pikir kamu hanya
bergurau. Tidak ada jangkrik disini. Dan seandainya ada, bagaimana orang
bisa mendengar di tengah kebisingan jalan ini? Apakah kamu pikir kamu bisa
mendengar suara jangkrik?”




Kata orang desa itu ,”Ya ! ada satu ekor yang bernyanyi di sekitar sini
sekarang”
. Orang desa itu berjalan beberapa langkah, lalu berhenti di samping
tembok sebuah rumah. Di situ ada tanaman yang tumbuh merambat. Orang
desa itu memetik beberapa daun, dan diatas daun itu ada seekor jangkrik yang
sedang bernyanyi keras sekali. Teman dari kota itu kini bisa melihat jangkrik
itu, dan ia pun mulai bisa mendengarkan suara nyanyiannya. Ketika mereka
mulai berjalan-jalan kembali, orang kota itu berkata kepada teman desanya
, ”Kamu secara alami bisa mendengar lebih alami dari kami”. Orang desa itu
tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata ,”Saya tidak
setuju dengan pendapatmu. Orang desa tidak bisa mendengar lebih baik dari
orang kota. Sekarang lihat, saya akan memperlihatkan sesuatu kepadamu”.




Lalu orang desa itu mengambil uang logam dan melemparkannya ke
trotoar. Bunyi uang logam itu membuat banyak orang menoleh kepadanya.
Kemudian orang desa itu memungut uang logam itu, dan keduanya
melanjutkan berjalan-jalan.


Kata orang desa itu ,”Tahukah kamu sobat, suara uang logam tidaklah
lebih keras dari suara jangkrik tadi. Meski demikian, banyak orang kota
mendengar dan menoleh ke arahnya. Di lain pihak, saya adalah satu-satunya
orang yang mendengar suara jangkrik itu. Alasannya tentu bukan bahwa orang
desa bisa mendengar lebih baik dari orang kota. Tidak. Alasannya adalah
bahwa KITA SELALU MENDENGAR DENGAN LEBIH BAIK, HAL-HAL YANG
MENARIK PERHATIAN KITA, DIBANDING HAL-HAL YANG BERADA DI DEPAN KITA.”
.


Dikutip dari Suara Merdeka

Read More......

10 Januari 2008

Integritas menghasilkan kepercayaan

Menjelang panen seorang pria menyewa tiga orang pemuda yang akan membantunya untuk mengumpulkan hasil ladangnya. Ketiga pemuda itu mengerjakan tugas- tugas mereka dengan baik dan setelah semuanya selesai mereka dipanggil untuk diberikan upah seperti yang telah dijanjikan. “Berapa yang harus saya bayar kepadamu John?“ tanyanya kepada pemuda yang pertama. “55 dolar Tuan,“ jawabnya dan pria itu menulis cek senilai 55 dolar untuknya. “Terima kasih atas jerih payahmu, John,“ katanya dengan hormat. “Berapa yang harus saya bayar kepadamu Michael?“ katanya kepada pemuda yang kedua. “Anda harus membayar 75 dolar Tuan,“ kata Michael. “Bagaimana caramu menghitung sampai jumlahnya setinggi itu ?“ “Begini Tuan, saya menghitung biaya sejak saya masuk ke dalam mobil untuk berangkat dan tiba di sini, ditambah dengan uang bensin dan makan.“ jawabnya. “Uang makan? Kan makanan sudah disediakan?“ tanya pria itu keheranan “Yap,“ jawabnya singkat. “O…begitu, kata pria itu sambil menuliskan cek senilai 75 dolar.



“Dan kau Nathan?“ lanjut pemilik ladang itu. “38 dolar 50 sen, Tuan,“ kata Nathan. Pria itu terdiam sejenak dan kemudian minta penjelasan. “Bagaimana kau bisa menghitung sampai jumlahnya bisa lebih rendah?“ “Saya tidak minta upah untuk waktu istirahat siang karena istri Tuan telah memasak dan menyiapkan makan siang. Saya tidak minta ongkos karena saya datang dengan menumpang mobil teman. Jadi upah saya cukup 38 dolar 50 sen,“ jawab Nathan. Pria itu pun menuliskan cek sebesar 100 dolar, memberikannya kepada Nathan kemudian menutup buku ceknya. Ia memandangi ketiga pemuda yang terdiam oleh perbuatannya. “Saya selalu membayar orang sesuai dengan nilainya. Di tempat asal saya, kami menyebutnya imbalan yang setimpal. Tinggi rendahnya nilai seseorang tercipta dari sikap orang itu sendiri,“ katanya menjelaskan besarnya pengaruh sikap hati di dalam pencapaian sesuatu.(diambil dari berbagai sumber-MS)

Read More......

01 Januari 2008

Tegar Menghadapi Badai Kehidupan

Ada sebuah pohon yang terkenal di California Selatan. Pohon itu selalu dikunjungi oleh para wisatawan dari dalam dan luar negeri. Sebenarnya bentuk pohon itu tidak istimewa dan tidak enak dilihat. Tingginya hanya sekitar dua meter dengan batang yang sedikit pipih dan melintir. Daun-daunnya hanya terdapat di sebagian cabang-cabangnya, sedangkan sebagian cabang yang lain gundul tak berdaun.



Yang membuat pohon itu terkenal, karena ia tumbuh di atas batu granit yang sangat keras. Pohon tersebut tumbuh pada ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut, menghadap langsung ke Samudera Pasifik yang anginnya keras. Tak ada pohon lain yang tumbuh selain pohon tersebut. Pohon itu berasal dari sebutir biji pohon yang terbawa angin beberapa tahun yang lalu, kemudian jatuh di celah batu granit yang ada tanahnya. Benih itu tumbuh dan batangnya muncul, tetapi terpaan angin Pasifik menghancurkannya. Kadang- kadang pohon itu bisa tumbuh agak besar, tetapi angin kencang Pasifik akan kembali memporak-porandakannya. Bagian batangnya memang tidak bisa bebas dari terpaan angin, sehingga model batang pohon itu menjadi tidak karuan karena angin yang menderanya, namun akarnya terus menancap ke bawah mencari jalan di sela-sela batu granit yang keras. Akarnya terus mengisap mineral-mineral yang ada di sekitarnya. Sementara itu walau penuh perjuangan karena harus diterpa angin berkali-kali, batangnya tumbuh terus sehingga lama-kelamaan ia semakin kokoh karena sudah terlatih. Orang Amerika menganggap pohon tersebut sebagai simbol ketegaran di dalam menghadapi badai kehidupan.



Ada beberapa alasan mengapa orang percaya harus tegar di dalam menghadapi badai kehidupan yang berupa masalah- masalah yang datang di dalam kehidupannya.

Pertama, masalah adalah hal yang wajar bagi orang yang hidup. Selama masih hidup di dunia ini, masalah akan tetap ada. Jika kita menyerah, maka kita akan kalah. Tetapi jika kita tegar dan berusaha mengatasinya, maka kita akan menang.

Kedua, Tuhan menjanjikan jalan keluar dari setiap masalah yang kita alami. Masalah yang kita hadapi tidak akan melebihi kekuatan kita. Hadapilah masalah dan tetaplah tegar, karena Tuhan selalu siap menolong dan memberikan jalan keluar.

Ketiga, masalah akan mendewasakan kita. Seperti pohon di atas, ia menjadi semakin kokoh karena sudah terlatih. Kesenangan hidup tidak akan mendewasakan, malah bisa menjatuhkan. Tetapi masalah akan membuat kita semakin dewasa di dalam iman.(diambil dari berbagai sumber-MS)

Read More......