Awalnya kesal selanjutnya dendam.... Tersusun secara tiba-tiba rencana untuk membalas dendam minimal sama dengan kekesalan yang didapat. Menunggu kesempatan yang pas, membuat rencana sedemikian rupa, bahkan hal-hal yang tidak terpikirkan menjadi ada karena kesal dan ingin balas dendam.
Itulah manusia, terkadang merupakan gambaran diri jika sedang mengalami sesuatu yang kurang menyenangkan yang dilakukan oleh teman bahkan sahabat sendiri. Jika itu terjadi, seharusnya kita mencoba tenangkan diri, relaks, coba pikirkan akibat yang akan terjadi jika kita balas dendam.
Maka, hal yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah Jangan Kesal & lupakan kekesalan kita serta jangan biarkan berkembang dalam hati kita...
02 Agustus 2009
Menahan Diri
30 Juli 2008
Pengendara Motor
Esoknya, kukendarai motor ini dengan hati-hati maklumlah "First Ride". Senyum mengembang di bibir saat berpapasan dengan tetangga, maklumlah motor baru. Kecepatan tidak melewati 40 km/jam, pokoknya sangat hati-hati.
Itu dulu, setelah 4 bulan berlalu, akhirnya bener-bener jadi raja jalanan. Pokoke gas harus "puol", motor yang nyalip harus dibalas sampai titik darah penghabisan, apalagi yang merknya beda atau pengendaranya belagu, pasti dikejar sampai "minimal" nyusul dah.
Sampai suatu ketika, temen kerja yang menggunakan motor terjatuh karena menabrak pembatas antara jalur busway, dan tangannya patah, pembawaan dalam mengendarai motor berubah total, pokoknya insaf deh, gak pengen kejadian tersebut menimpa pada diri sendiri. Rugi semuanya, baik waktu, tenaga, badan, serta biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan.
Saat ini, saatnya gua mengingatkan rekan-rekan sesama pengendara motor untuk lebih tertib dalam menggunakan motor. Jumlah motor yang sangat banyak di Ibukota apalagi jam-jam tertentu menuntut kita untuk lebih berhati-hati. Tidak perlu gua ceritakan hal-hal tragis yang menimpa rekan-rekan pengendara motor yang menyebabkan mereka meninggal, karena perubahan dari satu pengendara saja mampu menjadi contoh buat pengendara lainnya.
Segala yang ada di bumi berjalan dalam suatu sistem, itulah "System-Life".
10 Juli 2008
Setiap Langkah Adalah Anugerah
Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer.
Di
Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu?" tanya sang professor.
"Melakukan apa?" tanya Ralph.
"Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu?" desak sang professor.
"Oh...", kata Ralph "selama perang ....."
"Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal."
Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.
"Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah", katanya. "Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki, serta mensyukuri langkah sebelumnya.". "Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini."
Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.
Nilai manusia tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup. Kekayaan manusia bukan pada apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.
Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini. Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri. Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT.
09 Juli 2008
Komitmen, Hasrat dan Keberanian
Namanya Hani. Hani Irmawati. Ia adalah gadis pemalu, berusia 17 tahun. Tinggal di rumah berkamar dua bersama dua saudara dan orangtuanya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah tangga. Pendapatan tahunan mereka, tidak setara dengan biaya kuliah sebulan di Amerika.
Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal, dan tidak menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar bahasa Inggris di sana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian besar untuk ukuran gadis Indonesia. "Aku ingin kuliah di Amerika," tuturnya, terdengar hampir tak masuk akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.
Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas sang guru. Lelah, tapi siap belajar. "Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang kaya-kaya," tutur sang guru. "Semangat Hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat." Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena tes semacam itu tak ada. Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana pun.
"Maukah Anda mengirimkan namaku?" pintanya untuk didaftarkan sebagai penerima beasiswa. "Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-titik dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tetapi juga dengan pujianku tentang keberanian dan kegigihannya," ujar sang guru.
"Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya untuk diterima itu tipis, mungkin nihil." Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam bahasa Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar bagi seseorang yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua minggu ia belajar bagian-bagian komputer dan cara kerjanya. Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia menerima surat dari asosiasi beasiswa itu. "Inilah saat yang kejam. Penolakan," pikir sang guru. Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, sang guru lalu membuka surat dan mulai membacakannya: Ia diterima! Hani diterima.... "Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang sudah diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri," tutur sang guru menutup kisahnya.
Kisah Hani ini diungkap oleh sang guru bahasa Inggris itu, Jamie Winship, dan dimuat di buku "Chicken Soup for the College Soul", yang edisi Indonesianya telah diterbitkan.
Tentu kisah ini tidak dipandang sebagai kisah biasa oleh Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Kimberly Kirberger, dan Dan Clark. Ia terpilih diantara lebih dari delapan ribu kisah lainnya. Namun, bukan ini yang membuatnya istimewa. Yang istimewa, Hani menampilkan sosoknya yang berbeda. Ia punya tekad. Tekad untuk maju. Maka, sebagaimana diucapkan Tommy Lasorda, "Perbedaan antara yang mustahil dan yang tidak mustahil terletak pada tekad seseorang." Anda memilikinya?
Sumber: Disadur dari Chicken Soup for the College Soul.
08 Juli 2008
Cintailah Dia
ini sebuah kutipan dari buku stephen covey, 7 habits, yang terkenal itu.
Pada sebuah seminar, saya berbicara ttg konsep proaktif, ketika seseorang datang dan berkata, "stephen, saya suka apa yang kamu katakan. tapi situasi saya sungguh berbeda. lihatlah perkawinan saya. Saya sungguh khawatir. saya dan istri saya tak lagi punya perasaan yang sama seperti dulu. saya kira saya tak lagi mencintainya, dan dia tak lagi mencintai saya. apa yang harus saya lakukan? "perasaan itu sudah tak ada lagi?", tanyaku. "Benar," jawabnya. "kami punya anak, dan kami sangat khawatir tentang mereka. apa saran kamu?"
"cintailah dia", jawab saya.
"kan saya sudah bilang, perasaan itu sudah tak ada"
"cintailah dia"
"kamu tak mengerti. perasaan itu tak ada lagi"
"cintailah dia. kalau perasaan itu sudah tak ada lagi, itu adalah alasan bagus untuk mencintainya."
"tapi bagaimana kamu bisa mencintai pada saat kamu tidak cinta?"
"temanku, cinta itu adalah kata kerja. cinta-perasaan itu-adalah buah dari cinta sebagai kata kerja. cintailah dia. layani dia. Dengarlah dia. berkorbanlah untuk dia. bla bla bla. maukah kamu melakukannya?"
Cinta seringkali dideskripsikan sebagai sebuah magic yang mengontrol manusia. cinta bisa membuat orang melakukan apa saja. cinta seolah membuat orang tak lagi punya pilihan kecuali memenuhi tuntutan cinta itu. sebaliknya, ketika cinta tak lagi eksis, orang tak lagi punya motif untuk berbuat sesuatu. benarkah demikian?
saya cenderung setuju pada pandangan covey tadi. cinta itu adalah kata kerja, dan transitif. artinya, kita punya kontrol penuh terhadapnya. apakah kita akan mencintai atau tidak mencintai. kita juga bisa memilih siapa yang hendak kita cintai dan yang tidak kita cintai. tapi kita sering ditipu oleh kelemahan diri kita dan kita jadikan cinta sebagai kambing hitamnya. karenanya banyak yang percaya bahwa cinta itu buta.